Fandom

Ensiklopedia Islam

Dzikir setelah shalat

1.092pages on
this wiki
Add New Page
Bicara0 Share

Ad blocker interference detected!


Wikia is a free-to-use site that makes money from advertising. We have a modified experience for viewers using ad blockers

Wikia is not accessible if you’ve made further modifications. Remove the custom ad blocker rule(s) and the page will load as expected.

Dzikir setelah shalat Edit

Istighfar dan puji-pujian Edit

Al-Walid: Dari Auza'i, dari Abu Ammar ‒ namanya adalah Syaddad bin Abdillah, dari Abu Asma, dari Tsauban, ia berkata, "Adalah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam jika selesai dari shalatnya, beliau beristighfar tiga kali dan berkata Ăllähumma, antas-salāmu, wa minkas-salāmu, tabāråkta dzal-jalāli wal-ikrämi (Ya Allah, Engkaulah Maha Selamat, dari-Mu keselamatan. Maha Berkah Engkau yang mempunyai keagungan dan kemuliaan)."

Al-Walid berkata: Aku bertanya kepada Auza'i. "Bagaimanakah istighfar?" Ia menjawab, "Engkau mengucapkan Astaghfirulläha, astaghfirulläha (Aku mohon ampun kepada Allah, aku mohon ampun kepada Allah)."[1]

Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Ibnu Numair, keduanya berkata: Telah mengisahi kami Abu Mu'awiyah, dari Ashim, dari Abdullah bin Harits, dari Aisyah, ia berkata, "Adalah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam jika salam, tidak duduk melainkan sekedar mengucapkan Ăllähumma, antas-salāmu, wa minkas-salāmu, tabāråkta dzal-jalāli wal-ikrämi (Ya Allah, Engkaulah Maha Selamat, dari-Mu keselamatan. Maha Berkah Engkau yang mempunyai keagungan dan kemuliaan)."

Dan dalam riwayat Ibnu Numair, "Yā dzal-jalāli wal-ikrämi (Wahai yang mempunyai keagungan dan kemuliaan)."[2]

Tahlil Edit

Tahlil Mughirah bin Syu'bah

Dari Warrad ‒ sekretaris Mughirah bin Syu'bah, ia berkata: Mughirah bin Syu'bah mendiktekan kepadaku surat untuk Muawiyah, bahwasanya Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam biasa mengucapkan di setiap akhir shalat wajib Lā ilāha illăllähu wahdahu lā syarīka lahu, lahul-mulku wa lahul-hamdu, wa huwa 'alā kulli syai`in qådīrun. Ăllähumma lā māni'a limā a'thåita wa lā mu'thiya limā mana'ta wa lā yanfa'u dzal-jaddi minkal-jaddu (Tidak ada sesembahan selain Allah saja, tidak ada sekutu untuk-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah! Tidak ada penghalang terhadap yang Engkau berikan dan tidak ada pemberi apa yang Engkau halangi. Serta tidak bermanfaat harta pemilik kekayaan untuk menolak siksa-Mu).[3]

Tahlil Abdullah bin Zubair

Dari Abu Zubair, ia berkata: Ibnu Zubair biasa mengucapkan di akhir tiap shalat setelah salam Lā ilāha illallähu wahdahu lā syarīka lahu, lahul-mulku wa lahul-hamdu, wa huwa 'alā kulli syai`in qådīrun. Lā haula wa lā quwwata illā billāhi. Lā ilāha illăllähu wa lā na'budu illā iyyāhu. Lahun-ni'mah wa lahul-fadhlu wa lahuts-tsāna-ul-hasanu. Lā ilāha illăllähu mukhlishīna lahud-dīna, wa lau karihal-kāfirūna (Tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar selain Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan pujian, dan dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah. Tidak ada sesembahan selain Allah dan kami tidak menyembah selain kepada-Nya. Milik-Nya segala nikmat, keutamaan, dan pujian yang baik. Tidak ada sesembahan selain Allah dengan memurnikan agama kepada-Nya walaupun orang-orang kafir tidak suka).

Dan Ibnu Zubair berkata, "Adalah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bertahlil dengannya di akhir tiap shalat."[4]

Tahlil setelah Shalat Subuh dan Maghrib

Dari Abu Dzar, bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah bersabda, "Barangsiapa mengucapkan di akhir Shalat Fajar ketika dia melipat kedua kakinya sebelum berbincang-bincang Lā ilāha illăllähu wahdahū lā syarīka lahu, lahul-mulku wa lahul-hamdu, yuhyī wa yumītu, wa huwa 'ala kulli syai`in qådīrun (Tidak ada ilah selain Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan milik-Nya pula segala pujian, di tangan-Nya segala kebaikan, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu) sepuluh kali, maka akan ditulis baginya sepuluh kebaikan, dan dihapus darinya sepuluh keburukan, dia diangkat sepuluh derajat, dan sepanjang harinya itu dalam perlindungan dari segala yang tidak disukai, terjaga dari setan, dan tidak layak sesuatu dosa menjumpainya pada hari itu kecuali syirik kepada Allah."[5]
Dari Umarah bin Syabib as-Sabai, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, "Barangsiapa mengucapkan Lā ilāha illăllähu wahdahu lā syarīka lahu, lahul-mulku wa lahul-hamdu, yuhyī wa yumītu, wa huwa 'alā kulli syai`in qådīrun (Tidak ada sesembahan selain Allah saja, tidak ada sekutu untuk-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan pujian, menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu) sepuluh kali setelah maghrib, niscaya Allah utus pasukan (malaikat) yang akan menjaganya dari setan hingga subuh. Dengan kalimat itu juga Allah tulis untuknya sepuluh kebaikan yang mengharuskan (masuk surga), menghapus darinya sepuluh keburukan, dan dia memperoleh pahala seperti memerdekakan sepuluh budak mukmin."[6]
Dari Abu Hurairah, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, "Barangsiapa mengucapkan Lā ilāha illăllähu wahdahū lā syarīka lahu, lahul-mulku wa lahul-hamdu, wa huwa 'ala kulli syai`in qådīrun (Tidak ada ilah selain Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan milik-Nya pula segala pujian, di tangan-Nya segala kebaikan, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu) setelah Shalat Subuh sepuluh kali, maka Allah Azza wa Jalla tulis baginya sepuluh kebaikan, Allah hapus darinya sepuluh keburukan, Allah angkat dia sepuluh derajat, dia memperoleh pahala seperti memerdekakan dua orang budak dari keturunan Ismail, dan menjadi perisai untuknya dari setan hingga petang. Dan jika ia mengucapkannya ketika petang, ia juga memperoleh yang seperti itu, dan menjadi perisai untuknya dari setan hingga subuh."[7]
Dari Abu Ayyub al-Anshari, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, bahwa beliau telah bersabda, "Barangsiapa mengucapkan ketika subuh Lā ilāha illăllähu wahdahū lā syarīka lahu, lahul-mulku wa lahul-hamdu, yuhyī wa yumītu, wa huwa 'ala kulli syai`in qådīrun (Tidak ada ilah selain Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan milik-Nya pula segala pujian, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu) sepuluh kali, maka Allah akan menulis baginya untuk sekali yang ia ucapkan sepuluh kebaikan, dengannya Allah hapus dari dia sepuluh keburukan, dengannya Allah angkat dia sepuluh derajat, kalimat itu baginya seperti (memerdekakan) sepuluh budak, kalimat itu menjadi maslahat sejak awal hingga akhir hari, dan dia tidak akan melakukan amal yang menyamainya pada hari itu. Demikian itu juga jika dia mengucapkannya pada sore hari."[8]

Tasbih, tahmid, dan takbir Edit

Membaca Ta'awudz, Ayat Kursi, dan Al-Muawwidzat Edit

Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.[9]
Dari Abu Umamah, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, "Barangsiapa membaca Ayat Kursi di akhir tiap shalat wajib, maka tidak ada yang menghalanginya masuk surga kecuali kematian."[10]
Dari Uqbah bin Amir, ia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menyuruhku membaca al-Muawwidzat di akhir tiap shalat."[11]

Doa setelah Shalat Subuh Edit

Kitab Penegakan Shalat dan Sunnah di Dalamnya | Bab Apa Yang Diucapkan Setelah Salam

dari Ummu Salamah, bahwasanya Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam biasa mengucapkan jika Shalat Subuh setelah salam, "Ăllähumma innī as`aluka 'ilman nāfi'an, wa rizqån thåyyiban, wa 'amalan mutaqåbbalan (Ya Allah! Sesungguhnya aku minta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amal yang diterima)."[12]

Doa Sa'ad bin Abi Waqqash Edit

Dari Mush'ab bin Sa'ad dan Amr bin Maimun. Keduanya berkata: Sa'ad mengajari anak-anaknya kalimat-kalimat ini sebagaimana guru baca tulis mengajari anak-anak dan dia berkata, "Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam berlindung dengan kalimat ini di akhir shalat, yaitu Ăllähumma, innī a'ūdzubika minal-jubni, wa a'ūdzubika minal-bukhli, wa a'ūdzubika min ardzalil-'umuri, wa a'ūdzubika min fitnatid-dunyā wa 'adzābil-qåbri (Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut, aku berlindung kepada-Mu dari sifat bakhil, aku berlindung kepada-Mu dari selemah-lemah umur, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia dan azab kubur)."[13]

Dzikir penutup Edit

Dari Aisyah, ia berkata, "Tidaklah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam duduk di suatu majlis, tidak pula membaca Al-Qur'an, dan tidak pula mengerjakan shalat, melainkan menutupnya dengan beberapa kalimat." Aisyah berkata: Akupun mengatakan, "Wahai Rasulullah! Aku melihatmu tidak duduk di suatu majlis, tidak pula membaca Al-Qur'an, dan tidak pula mengerjakan shalat, kecuali menutupnya dengan kalimat tersebut." Beliau menjawab, "Ya. Barangsiapa mengucapkan kebaikan, ia adalah segel yang menutup kebaikan itu. Dan barangsiapa mengucapkan keburukan, maka kalimat itu sebagai tebusannya: Subhānaka, wa bihamdika, lā ilāha illā anta, astaghfiruka wa atūbu ilaika (Maha Suci Allah dan dengan memuji-Mu, tidak ada sesembahan selain Engkau, aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu)."[14]

Catatan Edit

  1. HR. Muslim (931), Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan Darimi.
  2. HR. Muslim (932), Tirmidzi, Nasai, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, dan Darimi.
  3. HR. Bukhari (799, 5855, 5992, 6125, 6748), Muslim (933 & 934), Nasai, Abu Dawud, dan Ahmad.
  4. HR. Muslim (935), Nasai, dan Ahmad.
  5. HR. Tirmidzi (3396/3474). Ringkasan Hadits (17814).
  6. HR. Tirmidzi (3457/3534) dan Nasai dalam al-Kubra (10338). Ringkasan Hadits (8013).
  7. HR. Ahmad (8719) dan Hasan bin Arafah dalam Juznya (18). Ringkasan Hadits (18249).
  8. HR. Ahmad (23568). Ringkasan Hadits (25492).
  9. QS. An-Nahl, 16: 98.
  10. HR. Ibnu Sunni dan Nasai dalam al-Kubra (9848). Ash-Shahihah (972).
  11. HR. Nasai (1319), Abu Dawud, dan Ahmad. Ash-Shahihah (1514).
  12. HR. Ibnu Majah (915), Ahmad, dan Thabarani dalam ash-Shaghir (735). Ar-Raudh an-Nadhir (1199).
  13. HR. Bukhari (2610), Tirmidzi (3490), Nasai, dan Ahmad. Sedangkan ini adalah redaksi Tirmidzi.
  14. HR. Nasai dalam Sunan al-Kubra (10067) dan Thabarani dalam ad-Du'a (1912). Ash-Shahihah (3164).

Also on Fandom

Random Wiki